Search This Blog

Followers

like Batu

Jumlah Paparan Halaman

Isnin, 11 Julai 2011

Raja Offa dan Misteri Dinar Inggris




PADA tahun 2008, seorang warga Sidoarjo bernama Rohimin menemukan mata uang kuno Majapahit dalam jumlah yang sangat banyak, hingga mencapai sepuluh ribu keping lebih. Dalam beberapa berita surat kabar, staf Balai Peninggalan Purbakala Trowulan yang menangani temuan tersebut memastikan bahwa kepingan-kepingan itu merupakan mata uang resmi Kerajaan Majapahit. Disebutkan juga bahwa koin-koin yang ditemukan Rohimin itu berhurufkan China, sehingga ini menjadi bukti adanya hubungan dagang yang kuat antara Majapahit dan China. Namun anehnya, gambar mata uang yang ditampilkan pada berita-berita tersebut secara jelas tidak menampilkan huruf China. Gambar mata uang Gobog Majapahit yang ditampilkan justru menunjukkan tulisan bahasa Arab, yang tampaknya merupakan lafaz ’La ilaha illallah Muhammadur rasulullah.’
Temuan mata uang resmi Majapahit yang mengandung tulisan bahasa Arab ini menimbulkan spekulasi di sebagian kalangan tentang hubungan yang sesungguhnya antara Kerajaan Majapahit dan Islam. Kerajaan Majapahit yang selama ini dikenal sebagai Kerajaan Hindu-Budha kini mulai dianggap oleh sebagian pihak tadi sebagai Kerajaan Islam. Beberapa argumen dan penafsiran diajukan untuk mendukung pendapat tersebut. Di antara bukti menonjol yang diajukan adalah, tentu saja, temuan mata uang berbahasa Arab di atas. Apakah Kerajaan Majapahit sesungguhnya merupakan sebuah kerajaan Islam? Tentu kita tidak bisa tergesa-gesa dalam mengambil kesimpulan ini. Tapi beberapa bukti baru  yang ada jelas menawarkan penjelasan dan penafsiran yang baru juga.



Pengaitan Islam dengan kerajaan non-Muslim masa lalu bukan hanya terjadi pada Kerajaan Majapahit saja. Salah satu raja Inggris juga pernah menyimpan teka-teki yang sama. Ia adalah Raja Offa (757-796).


Raja Offa dari Kerajaan Mercia


Offa merupakan seorang raja Anglo-Saxon yang memerintah Kerajaan Mercia selama hampir empat dekade, yaitu sejak tahun 757 hingga 796. Wilayah Inggris pada masa itu belum menyatu dalam satu kerajaan seperti yang kita kenal sekarang ini. Pada masa itu ada banyak kerajaan yang saling bersaing dan memperebutkan supremasi di wilayah tersebut. Namun, pada paruh kedua abad ke-8, di bawah kepemimpinan Offa Kerajaan Mercia dapat menaklukkan beberapa kerajaan di sekitarnya dan muncul sebagai kerajaan yang paling kuat dan menonjol di Inggris. Offa sendiri dianggap oleh banyak sejarawan sebagai salah satu raja Inggris (Anglo-Saxon) paling agung dan paling kuat sebelum Raja Alfred the Great yang memerintah antara tahun 871 dan 899 (Blair, 1990: 73; Travelyan, 1973: 85).


Offa memerintah Kerajaan Mercia pada masa yang hampir bersamaan dengan Raja Charlemagne yang memerintah Perancis dan beberapa wilayah Eropa lainnya sejak tahun 768 hingga tahun 814. Walaupun sempat mengalami ketegangan, hubungan di antara keduanya secara umum dapat dikatakan baik. Charlemagne sendiri menganggap Offa sebagai raja yang sederajat dengannya dan menyebutnya sebagai ’saudaranya yang terkasih’ (Blair, 1990: 73). Keduanya dianggap sebagai raja-raja terbesar pada masanya. Walaupun demikian, Charlemagne jauh lebih populer dan dikenal oleh sejarah dibandingkan Offa.


Terlepas dari peranannya yang besar dalam sejarah Inggris, catatan sejarah tentang Offa hanya sedikit yang sampai ke tangan para sejarawan modern. Tentang hal ini seorang sejarawan berkomentar, ”Kita merasa pasti bahwa Offa merupakan seorang tokoh yang sangat penting dalam perkembangan institusi-institusi Anglo-Saxon tanpa dapat mengetahui apa yang sesungguhnya telah ia lakukan.” Ia dianggap memainkan peranan penting dalam pengembangan pendidikan dan hukum di Inggris pada masa itu, tetapi seperti apa bentuk program pendidikan dan konsep hukumnya tidak lagi diketahui (Hollister et. al., 2001: 67-8). Tentu saja tidak semua kiprah Raja Offa terselubung oleh misteri. Sebagian peranannya masih terekam oleh sejarah, walaupun tidak sedetail yang diharapkan oleh orang-orang yang ingin mempelajari perjalanan hidupnya secara mendalam.


Di antara peninggalan penting Raja Offa yang masih dapat dilihat bekas-bekasnya pada masa sekarang ini adalah tanggul atau parit (dyke) yang sangat panjang dan besar. Beberapa penggalian dan penelitian menyarankan bahwa parit ini merupakan batas penghalang antara Inggris (England) dan Wales, yang memanjang dari laut ke laut. Parit ini dibangun sebagai benteng pertahanan terhadap serangan dari wilayah Wales ke wilayah Kerajaan Mercia (Blair, 1990: 74 & 76).


Parit yang dibangun Offa ini terbentang sejauh kurang lebih 150 mil (sekitar 240 km). Ini berarti kurang lebih setara dengan jarak dari Jakarta ke Cirebon. Parit ini memiliki kedalaman 6 kaki (hampir 2 meter). Pada beberapa bagian atas parit ini dibangun tembok batu. Untuk membangun parit ini setidaknya Offa memerlukan puluhan ribu pekerja yang menjalankan penggalian dan pembangunan selama beberapa tahun. Parit Offa (Offa’s Dyke) ini dianggap sebagai monumen paling mengesankan, untuk kategorinya, yang pernah dibangun oleh seorang raja Eropa (Hollister et. al., 2001: 68).


Dinar Raja Offa


Selain dalam pengembangan wilayah dan pertahanan wilayah, pemerintahan Offa juga memiliki peranan penting dalam perdagangan. Hubungan perdagangan antara Inggris dan Perancis pada masa itu sangat baik. Pemimpin kedua wilayah saling melindungi pedagang asing yang datang ke wilayahnya. Dalam salah satu suratnya kepada Offa, Charlemagne menjamin perlindungan terhadap para pedagang Inggris yang berniaga di wilayahnya. Dan sebaliknya, ia juga meminta Offa menjamin hal yang sama bagi para pedagang Perancis yang berniaga di wilayah Mercia (Hollister et. al., 2001: 67).


Peranan Offa yang menonjol di bidang ekonomi bukan hanya dalam hal memajukan perdagangan, tetapi juga dalam pencetakan uang. Koin Mercia yang dibuat pada masa pemerintahan Offa merupakan yang terbaik di Eropa pada masanya. Hingga tahun 600 Masehi, masyarakat Inggris tidak mencetak mata uang sendiri. Mereka menggunakan mata uang asing untuk menjalankan roda ekonominya. Pada abad ke-7 dan 8, raja-raja Inggris sebelum Offa mulai mencetak koin perak, tapi bentuknya masih kasar dan hanya digunakan secara terbatas atau bersifat lokal. Menjelang masa pemerintahan Offa, Kerajaan Perancis mampu mencetak koin-koin yang lebih baik dan sebagiannya digunakan di Inggris. Namun, pada masa pemerintahannya Offa mampu mencetak mata uang yang lebih baik. Koin-koin Offa kemudian diterima secara luas dalam perdagangan di Inggris dan di Eropa. Penyebaran koin Offa lebih luas dibandingkan dengan berbagai mata uang yang beredar di Eropa sejak masa Romawi (Blair, 1990: 77).


Koin-koin yang dibuat pada masa Offa terdiri dari koin emas dan perak. Hanya sedikit koin emas Offa yang masih ada sekarang ini. Di antara koin-koin emas tersebut, ada satu yang paling menarik perhatian. Koin tersebut pada salah satu sisinya berisi kalimat bahasa Arab ’Laa ilaaha illa Allah’ dan beberapa kalimat lainnya yang menggambarkan keyakinan seorang Muslim. Sementara pada sisi lainnya berisi tulisan latin ’Offa Rex.’
Menurut Syeikh Abdullah Quilliam, teks berbahasa Arab pada koin tersebut secara lengkapnya bermakna kurang lebih seperti berikut: ’Tidak ada tuhan selain Allah, Yang Esa, tanpa sekutu, dan Muhammad adalah utusan Allah.’ Dan pada sekeliling koin terdapat teks yang bermakna ’Muhammad adalah utusan Allah, (Dia) Yang mengutusnya (Muhammad) dengan ajaran dan keyakinan yang benar untuk dimenangkan atas seluruh agama.’ Koin ini tampaknya hingga saat ini disimpan di British Museum.


Dikeluarkannya koin dinar dengan teks semacam ini oleh seorang raja Eropa yang oleh sejarah dikenal sebagai seorang raja Kristen tentu saja menimbulkan tanda tanya dan spekulasi. Apakah Raja Offa telah memutuskan untuk menjadi seorang Muslim dan mendeklarasikan keyakinannya pada koin kerajaannya? Kalau Offa bukan seorang Muslim, lantas mengapa kalimat tersebut dicetak pada koin Mercia?


Fakta ini membuat sebagian orang meyakini bahwa Raja Offa telah meninggalkan keyakinan sebelumnya dan beralih menjadi seorang Muslim. Penulis pada sunnahonline.com, misalnya, menduga bahwa Offa telah masuk Islam dan karenanya dokumen yang terkait dengan dirinya telah dihilangkan oleh Gereja Inggris pada masa itu. Offa merupakan raja yang penting dan memiliki peran sangat besar, tapi data-data sejarah tentang dirinya sangat minim. Apakah dokumen sejarah yang terkait dengan Offa memang hilang tanpa sengaja seiring dengan perjalanan sejarah, atau dokumen-dokumen itu memang sengaja dihilangkan? Ide bahwa data-data sejarah tentang Offa telah dengan sengaja dihilangkan karena ia masuk Islam merupakan teori yang bertema konspirasi. Bagaimanpun, kemungkinan tersebut bukannya sama sekali mustahil.


Syeikh Abdullah Quilliam (1856-1932) juga pernah menulis tentang ini dan ia memberikan analisa yang lebih kritis. Abdullah Quilliam merupakan seorang warga Inggris dan memiliki nama asal William Henry Quilliam. Ia lahir pada keluarga sebuah keluarga kaya di Liverpool. Pada tahun 1887 ia masuk Islam setelah mengunjungi Maroko. Sejak itu ia aktif berdakwah di Inggris, antara lain melalui tulisan. Ia mendirikan masjid pertama di Inggris pada tahun 1889. Dalam salah satu tulisannya, ia membahas tentang Offa dan dinar emasnya.


Menurut Quilliam, sejak pertengahan abad ke-19 hingga awal abad ke-20 para peneliti dan ahli numismatik Eropa telah menjadikan koin Offa ini sebagai obyek penelitian mereka. Mereka memberikan penafsiran yang berbeda tentang koin ini. Secara umum, kesimpulan mereka dapat dibagi dalam empat bagian:


Pertama, Offa telah masuk Islam dan dimasukkannya kalimat sahadat pada koin emas tersebut merupakan pernyataan keislamannya.


Kedua, Kalimat tersebut dicetak sebagai penghias koin tanpa diketahui maknanya oleh Offa.


Ketiga,  Koin itu dicetak untuk para peziarah Kristen ke Yerusalem agar mata uang tersebut lebih mudah diterima di wilayah Muslim yang akan dilalui para peziarah.


Keempat, Koin itu tidak dicetak untuk umum, melainkan sebagai upeti yang dijanjikan oleh Offa kepada Paus setiap tahunnya.


Pendapat-pendapat di atas dikeluarkan oleh para ahli Eropa yang tidak menganut Islam. Walaupun demikian, Quilliam sendiri menolak pendapat yang pertama. Menurutnya, ketika itu Eropa, termasuk Inggris, bukan hanya tidak memahami Islam, tetapi juga memahami Islam secara salah. Kesalahpahaman ini bahkan masih terus berkembang hingga ke jaman modern. Islam dilihat oleh masyarakat Eropa sebagai representasi Anti-Christ. Jika Offa menjadi seorang penganut Islam, ia tidak hanya beresiko kehilangan kedudukannya, melainkan juga nyawanya sendiri.


Ada beberapa hal lainnya yang membuat keislaman Offa menjadi sulit untuk diterima. Kebanyakan koin Offa yang lainnya mengandung simbol salib yang jelas tidak sejalan dengan nilai-nilai Islam. Selain itu Offa juga memiliki hubungan baik dengan Paus di Roma. Ia memberikan upeti kepada Paus sebesar 365 koin emas setiap tahunnya. Koin yang sedang kita bicarakan ini tampaknya juga merupakan bagian dari koin upeti tersebut. Rasanya tidak mungkin Offa menganut Islam dan menjalin hubungan baik dengan Paus pada waktu yang bersamaan.


Quilliam juga tidak menyetujui pendapat yang ketiga. Menurutnya, pada masa itu jumlah peziarah dari Inggris ke Yerusalem masih sangat terbatas. Jadi tidak ada alasan bagi Offa untuk mencetak secara khusus koin semacam ini. Pendapat yang lebih dapat diterima menurut Quilliam adalah pendapat kedua dan keempat. Ia berspekulasi bahwa ketika Offa menerima utusan Paus pada tahun 786 ia telah diminta untuk memberikan upeti tahunan kepada Paus. Mungkin ketika itu Offa bertanya kepada para utusan Paus tentang bentuk dan ukuran koin emas yang mesti ia serahkan kepada Roma, dan para utusan ini kemudian memberikan contoh sebuah koin emas yang kebetulan ada pada mereka, sebuah koin yang berisi kalimat bahasa Arab seperti di atas. Karena itu Offa menjadikan koin itu sebagai model bagi koinnya dan menambahkan namanya pada sisi lain koin tersebut.


Syeikh Abdullah Quilliam memberikan argumentasi yang cukup logis untuk mendukung pendapatnya, walaupun kisah yang dituturkan di atas hanya bersifat perkiraan saja. Bagaimanapun, diperlukan penelitian lebih jauh untuk menguatkan pendapat ini.
Jika koin itu merupakan tiruan dari dinar Islam yang ada pada masa itu, tentunya dapat dilacak peninggalan dinar pada masa lalu yang menjadi model bagi dinar Offa. Terlepas dari hal tersebut, berbagai interpretasi akan tetap terbuka terhadap koin itu. Selama data-data sejarah sangat minim dan terbatas, maka interpretasi sejarah akan semakin beragam.


Offa boleh jadi telah masuk Islam, tapi mungkin juga tidak. Agaknya kita tidak akan pernah mengetahuinya secara pasti. Namun yang jelas, lafaz syahadat tersebut telah menemukan jalannya untuk sampai ke sebuah kerajaan Kristen yang cukup penting di Eropa pada masa itu dan dicetak dalam koin emas kerajaan tersebut. Inskripsi tauhid yang terabadikan pada mata uang Muslim dan menjadi simbol penting sistem ekonomi Islam telah ikut terabadikan dalam perekonomian non Muslim, entah disadari atau tidak oleh mereka yang mencetaknya. Hal ini setidaknya menunjukkan besarnya pengaruh ekonomi dan sistem moneter Muslim pada masa lalu, terlebih jika melihat adanya mata uang-mata uang Eropa abad pertengahan lainnya yang juga berisi teks Arab, walaupun dengan lafaz yang berbeda.


Akankah konsep dan sistem ekonomi Islam yang berkembang sangat pesat pada waktu-waktu belakangan ini akan kembali dapat mengukirkan pengaruhnya dalam sistem ekonomi masyarakat non-Muslim dan masyarakat dunia secara umum? Waktulah yang akan menjawabnya.*/Kuala Lumpur, 23 Jumadil Awwal 1432/ 26 April 2011

Tiada ulasan: